Sejarah Singkat Desa Tari

Home » Sejarah Singkat Desa Tari

Tari adalah sebuah desa yang biasa disebut Karang Gayam, kelurahan Sumber, Kecamatan SImo, kabupaten Boyolali. Para putro wayah menyebutnya Tari. Dusun Tari tersebut sebetulnya tidak terlalu tandus karena iklimnya sejuk. Pada waktu itu, desa Tari tersebut dikelilingi perkebunan karet mulai dari Nogosari, Simo ke utara sampai ke pegunungan Raga Runting. Sumber daya alam antara lain kelapa, pisang, singkong, jagung dan sebagainya.

Penduduk belum terlalu padat, pendidikan formal akibat belum ada penjajahan Belanda. Saat itu masih sulit mencari santri belajar membaca Alquran, belum ada ustadz yang mengajar pendidikan agama. Waktu itu ibukota kecamatan di desa Temon, kemudian dipindah ke Simo.

Penduduk Tari dan sekitarnya pada umumnya sebagai petani dan ada pula yang buruh menyadap karet, yang kemudian disetor ke pabrik karet di Gelonggong dekat sungai Camara dan Karang Jati. Keadaan penduduk sangat sederhana, belum ada komunikasi dan transportasi.

Akibat penjajahan Belanda dan Jepang, rakyat menjadi minder dan miskin. Kendaraan lalulintas belum ada. Semua orang kalau ingin bepergian terpaksa jalan kaki. Listrik belum ada sehingga penenragan di rumahtangga memakai lampu sentir dan lampu teplok bagi yang mampu.

Dengan kondisi seperti ini, tidak ada kemajuan baik sosial, ekonomi, budaya, pendidikan serta perdagangan. Pada waktu itu para kesepuhan sering bercerita, mereka sangat jarang makan daging dan ikan serta telur. Lauk pauk pada umumya dari penghasilan kebun sendiri. Tempe tidak digoreng, cukup direbus, karena makan tempe digoreng termasuk mewah saat itu.

Pada waktu desa Tari dan sekitarnya dijadikan perkebunan karet, tahun 1948 setelah selesai perang dengan Belanda, perkebunan karet tersebut dibabat habis, tidak ada yang tertinggal, sedang tanahnya dibagi-bagikan kepada rakyat. Sayangnya umat Islam pada waktu itu di tempat tersebut, khususnya putro wayah mbah Tari belum ada yang mempunyai visi yang lebih jauh. Tidak ada yang memperjuangkan untuk memiliki sebidang tanah yang luas untuk dijadikan sentral kegiatan umat Islam, semacam Islamic Center.

Tapi ini bukan semata-mata tidak punya visi misi melainkan sikap berhati-hati, tidak gegabah merayah tanah, demikian pak Thoyib memberi alasan.

Pentingnya visi ini akan melahirkan peradaban Islam dan memberi manfaat banyak kepada umat. Contoh nyata adalah Al Azhar yang sekarang menjadi Yayasan Pendidikan Islam besar yang dimiliki umat.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top