Sungguh sebuah kebahagiaan dan kebanggaan bagi diri dan orangtua jika seseorang memiliki kelebihan dibanding orang lain. Apakah itu kelebihan dalam kecerdasan, jabatan, kekayaan dan label-label sosial lainnya.

Dan sebaik-baiknya kebahagiaan itu, membuat diri seseorang semakin dekat kepada Tuhannya, dia tampakkan rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan Allah kepada dirinya. Pertama, melalui ibadahnya, melalui hubungan sosialnya yang semakin baik kepada masyarakat sekitar, kepada istri dan anak-anaknya, dengan mendidik keluarganya dengan tuntunan agama yang benar, benar aqidahnya, akhlaknya dan segala perilaku yang menyertainya.

Itulah sebaik-baik rasa syukur karena karunia Allah kepadanya. Namun rasa syukur ini tidak semua orang sanggup menjalankan. Alih-alih mereka bersyukur atas segala kelebihan dan kedudukan yang ada, sebaliknya mereka malah menjadikan kelebihan itu untuk alat kekuasaan atas manusia lainnya.

Mereka merasa bahwa kelebihan yang mereka miliki adalah karena kepandaian mereka, kedisiplinan dan kerajinan mereka dalam belajar. Jadi, sah-sah saja mereka menggunakannya untuk tujuan apapun yang mereka mau.

Itulah settingan dasar manusia, yang mudah sekali memiliki sifat sombong, suka merendahkan orang lain, jika dilihat orang lain ini mempunyai derajat di bawah dirinya. Biasanya tinjauannya adalah harta dan tahta atau kedudukan.

Firman Allah dalam QS Azzumar 39 : 49:

Maka apabila manusia ditimpa bahaya ia menyeru Kami, kemudian apabila Kami berikan kepadanya nikmat dari Kami ia berkata: “Sesungguhnya aku diberi nikmat itu hanyalah karena kepintaranku”. Sebenarnya itu adalah ujian, tetapi kebanyakan mereka itu tidak mengetahui.

Hadits Nabi:

Diriwayatkan dari Abd Allah bin Mas’ud dari rasul SAW bersabda: Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat rasa angkuh walau hanya seberat dzarrah. Seorang shahabat bertanya: Seseorang senang berpakaian bagus dan bersepatu bagus bagaimana? Rasul SAW bersabda: Allah itu Maha Indah dan mencintai keindahan. Sombong adalah menentang kebenaran dan menggangap remeh orang lain. (Hr. Muslim).

Sombong menurut Nabi adalah menganggap remeh orang lain dan menentang kebenaran. Kekayaan, pangkat dan kedudukan selama tidak digunakan untuk merendahkan dan memperbudak manusia, maka itu adalah bagian dari sifat Allah yang suka akan keindahan

Mari kita ambil contoh kecil dalam keseharian kita. Tunjuklah diri sendiri dulu sebelum menunjuk orang lain. Ternyata dalam kehidupan sehari-hari kita banyak sekali dan mudah sekali terjadi yang tanpa sadar kita lakukan.

Perkembangan teknologi kendaraan bermotor sangat pesat. motor-motor cantik dengan mesin yang lebih besar dan harga yang semakin tinggi menjadi masyarakat banyak, seakan itu menjadi lambang kemakmuran meskipun dibeli dengan riba karena kredit lewat leasing.

Bukan tentang ribanya yang kita bahas, namun bisa jadi ini karena dampak dari riba, membuat masyarakat pemilik kendaraan-kendaraan baru yang bagus-bagus itu berubah dalam mengemudikan kendaraan. Yang tadinya begitu pelan dan hati-hati, sekarang berubah menjadi beringas di jalan. Tak rela sepertinya ada yang menyusul motor lain di depannya.

Inilah bentuk kesombongan masyarakat kecil yang banyak diidap kalangan menengah ke bawah. Jadi kesombongan tidak hanya menimpa mereka orang kaya, orang-orang berpangkat tinggi, tapi ternyata orang-orang miskin papa bisa terjangkit juga. Inilah akibat kehidupan tanpa panduan agama, panduan mereka adalah manusia yang kering dengan nilai-nilai agama.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top