Entah kapan saya mulai mengenal nama Raden Ngabehi Mohammad Saleh Cokrosuroto. Saya tidak bisa mengingatnya kembali. Saya belum pernah bertemu beliau. Mungkin satu-satunya momen yang bisa membawa saya pada kenangan tentang beliau adalah hiasan dinding di rumah orangtua saya yang berisi foto simbah dengan sebait kalimat berisi wasiat dan nasihat untuk anak cucunya. Saat pertama melihat itu pun saya masih kecil sehingga belum bisa memahaminya. Baru setelah lewat puluhan tahun kemudian saya menerima penjelasan dari almarhumah ibu, barulah saya mengerti. Hiasan dinding itu dibuat pada tahun 1952.

Pada dekade 80-an ada pertemuan Bani R.ng. Moh Saleh Cokrosuroto, yang diprakarsai oleh beberapa cucu beliau yaitu mas Sufyan Sabki, mas Mukhsan Sabki, mas Nurwachid Dirjosuroto, mas Taufiq Asror dan mas Mukrom Ubaidi Dirjomiharjo. Pertemuan ini diselenggarakan setiap hari raya Idul Fitri tanggal 3 Syawal versi pemerintah. Lokasinya berpindah-pindah sesuai tempat tinggal keluarga yang mendapat giliran menjadi penyelenggara. Pernah di Boyolali, Sragen, Solo dan Semarang.

Pertemuan ini berjalan beberapa tahun kemudian tiba-tiba berhenti. Tidak ada undangan tidak ada pertemuan. Saya lupa tahun berapa. Ada kemungkinan menurunnya kegiatan itu berkaitan dengan kondisi kesehatan para pemrakarsa hingga berpulangnya mereka satu persatu. Terakhir tahun 2001 mas Mukrom dan mas Taufiq berpulang dalam jarak waktu yang tidak terlalu lama. Komunikasi terhenti dan masing-masing kita terpisahhkan satu sama lain.

Namun demikian, komunikasi antar personal di antara kami tidak terputus. Dalam beberapa acara keluarga seperti acara pernikahan masih ada kegiatan saling mengundang dan karena itu masih bisa saling bertemu. Demikian juga jika ada peristiwa lelayu, kami masih bisa terhubung. Dan dari kontak-kontak inilah kemudian muncul ide untuk melanjutkan. Silaturahmi yang dulu pernah terhenti.

Mas Nurwachid Diryosuroto, satu-satunya pemrakarsa awal yang masih sugeng, berusaha menghimpun adik-adiknya untuk berembug guna menyatukan keinginan bersama melanjutkan silaturahmi KBBS (Keluarga Besar Bani Saleh). Diawali dengan rapat pertama di rumah mas Nasir asror Solo, kami bertemu. Perwakilan setiap keluarga hadir di sana. Dari 8 putra-putri simbah Bei Saleh hadir nanda mas Istamar wakil dari ibu Imam Puro, mas Nurwachid wakil dari keluarga bapak Diryosuroto, sekaligus pemrakarsa, mas Nasir dan mas Lukman wakil dari keluarga bapak Asror, mas Pudjianto wakil dari keluarga bapak Mardjuki dan saya sendiri mewakili keluarga ibu Siti Khusnah. Rapat itu menghasilkan kesepakatan silaturahmi KBBS perdana pada tanggal 25 Desember 2011 di Asrama Haji Donohudan Boyolali. Walaupun baru pertama kali, tetapi silaturahmi itu memberi kesan mendalam di hati putro wayah simbah Bei Saleh. Istilah KBBS sebagai singkatan dari Keluarga Besar Bani Saleh pun muncul setelah silaturahmi yang pertama ini.

Silaturahmi kedua diselenggarakan di rumah nanda ibu Puji Rahayu Fitriyani binti Sufyan di desa Pusung Boyolali pada tanggal 3 November 2013. Silaturahmi ke 2 tampak semakin terarah karena data keluarga masing-masing disusun lengkap oleh panitia setempat. Komunikasi antar warga KBBS jauh lebih intens dan efektif berkat kemajuan teknologi informasi.

Hubungan kekerabatan antar KBBS semakin hangat dan erat setelah ada kegiatan One Day One Juz (ODOJ) yang dikoordinir oleh dinda Ibu Siti Shoimah binti Ismi dan disepuhi oleh kanda mas Nurwachid bin Diryosuroto yang biasa kita aturi dengan sebutan Ki Lurah. Obrolan hangat dalam grup Whatsapp menyatukan kita kembali sebagai satu keluarga besar keturunan simbah Bei Saleh yang kita cintai.

Mengingat banyaknya warga KBBS yang memerlukan kordinasi lebih khusus maka dibentuklah kepengurusan KBBS di daerah. Ada KBBS Solo Raya diketuai oleh nanda H. Fathurrohman/Fathurrohim, KBBS Yogya diketuai oleh adinda Prof Junaidi bin Ilham yang karena kesibukan di kampusnya tugas itu dilimpahkan kepada ibu Siti Shoimah Ismi dan KBBS Jabodetabek diketuai nanda Fauzan Jayadi dan KBBS Surabaya Malang diketuai kanda mas Lukamn Hakim bin Asror. Setiap daerah memiliki agenda kegiatan masing-masing.

Sebuah Testimoni – Cucunda Mbah Bei Saleh

Saya coba mengingat kembali cerita-cerita manis tentang simbah yang dulu saya dengar dari almarhumah ibu saya, Siti Khusnah. Untuk melengkapi cerita-cerita itu, saya juga berusaha mencari data dan dokumen yang saya dapatkan dan sebanyak cerita yang berhasil saya gali dari ingatan masa lalu tentang kehidupan simbah Bei Saleh, saya sampaikan berikut ini:

1. Buku Silsilah Leluhur Kaliyoso. Buku ini disusun oleh bapak Sya’roni Martowikoro, putra ketiga simbah Bei Saleh, yang tergabung dalam panitia penyusun Silsilah Keluarga Besar Kaliyoso, trah Nitimenggolo yang dipimpin oleh KH. Muhammad Idris. Dicetak pada kertas buram dengan ketik manual dan diperbanyak dengan menggunakan mesin stensil setebal 408 halaman plus beberapa foto. Buku ini dicetak dan diterbitkan untuk kalangan terbatas tanpa tahun. Pada sudut kanan halaman pertama buku ini, saya temukan tandatangan bapak saya, Ismi Diryomiharjo, tanggal 4 Agustus 1986. Mungkin pada tanggal tersebut bapak menerima buku itu, entah dari siapa. Buku yang sama pernah saya dapatkan dari kanda mas Asmoeni SH, Surabay, saat sowan ke sana bersama adik dan kakak pada pertengahan tahun 2012.

Catatan tentang buku tersebut:
1. Buku ini tidak menyebutkan tahun kelahiran dan tahun wafatnya
2. Nama yang disebut dalam silsilah hanya nama laki-laki, sehingga tidak dapat diketahui apakah berada pada jalur keturunannya adalah anak kandung atau menantu.
3. Penyebutan nama kadang-kadang dengan nama kecil dan kadang-kadang dengan sebutan gelarnya sehingga kita tidak tahu bagaimana nama Mohammad Saleh itu melekat pada nama Tjokrosuroto
4. Tentang Prabu Brawijaya V, saya mendengar keterangan dari sebuah sumber bahwa beliau adalah pemeluk agama Islam. Bukti keislamannya ada di Candi Cetho, Karanganyar.

Dari buku tersebut ini, saya pelajari silsilah simbah Bei Saleh, sebagai berikut:

~ Bersambung ~

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top