Sumber tauladan kedisiplinan yang nomor satu ada di dalam Islam. Dalam sehari semalam kita diperintahkan untuk mengerjakan sholat 5 waktu yang waktu-waktunya semua sudah ditentukan, tidak boleh melebihi waktu yang telah diberikan. Lewat sedikit kita terhitung tidak melakukan dan siap menerima sanksi dari Allah.

Jika saja semua kita yang mengaku muslim/ah dan berislam sungguh-sungguh maka kita tidak membutuhkan berbagai macam referensi apapun untuk membuat kita berhasil dalam setiap aktivitas dan pekerjaan kita. Cukup melihat Alquran dan hadits melalui penjelasan para ulama dan mempraktekkannya dengan penuh disiplin dan bertanggungjawab.

Hal ini telah dicontohkan oleh para pendahulu kita, para shahabat, tabiin wattaabi’in dan seterusnya.

Islam terus jaya setelah wafatnya Rasul mulia Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mulai dari 4 khalifah utama Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib.

Kemudian datang eranya Umar bin Abdul ‘Aziz yang sangat mahsyur kepemimpinannya setelah kekhalifahan awal yaitu khalifaturrosyidin. Beliau adalah cucu buyut dari khalifah Umar bin Khattab. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Umar bin Abdul ‘Aziz mewarisi sifat-sifat kakeknya, akhlaknya dan gaya kepemimpinannya. Itulah contoh generasi awal yang diterangi oleh akhlak Alquran di bawah bimbingan Nabi langsung dan turunkan kepada anak dan cucunya. Di zaman pemerintahan Umar bin Abdul ‘Aziz yang sangat terkenal adalah tidak ada rakyatnya yang miskin karena tidak ada mustahiq yaitu golongan yang berhak menerima zakat, hingga saat itu dana zakat yang terkumpul belum tersalurkan kepada mustahiq. Ada juga yang mengatakan bahwa rakyatnya memiliki harga diri yang tinggi, walau sebenarnya mereka termasuk mustahiq tetapi mereka mau mengaku sebagai mustahiq, mereka yakin bahwa mereka akan menjadi muzakki jika berusaha sungguh-sungguh dengan izin Allah Subhaanahu Wa ta’alaa.

Dalam tulisan sebelumnya kita membahas QS 22:78 tentang makna Jihad yang diartikan kerja keras, kerja sungguh-sungguh sampai titik kemampuan kita. Itulah yang telah dilakukan oleh para muslim muslimat terdahulu. Dan yang kedua adalah mereka para muslim muslimat disiplin dalam berislam. Mereka para salafushalih adalah orang-orang yang sangat takut kepada Allah dan sangat tinggi cintanya kepada Nabi. Itu semua mereka jewantahkan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Apa yang diperintahkan atau dianjurkan dalam islam terutama dalam ibadah maka mereka berlomba menjadi yang terbaik. Maka tidak heran kesuksesan demi kesuksesan berhasil mereka raih.

Dalam suatu kesempatan Umar bin Khattab berkompetisi dengan Abu Bakar dalam hal mensedekahkan hartanya untuk fi sabilillah, dia mensedekahkan setengah dari hartanya. Namun ternyata lawannya Abu Bakar mensedekahkan seluruh hartanya.

Ketika Rasulullah bertanya,” Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu ?”. Abu Bakar menjawab,” Allah dan RasulNya.”. Maa syaa Allah.

Banyak sejarah penaklukan-penaklukan dalam Islam yang akhirnya berhasil adalah karena kerja jamaah yang sungguh-sungguh dan disiplin yang luarbiasa. Disiplin dalam ibadah dan disiplin dalam kehidupan diri, keluarga dan interaksi dengan masyarakat.

Allah berfirman dalam Alquran surat An-Nisaa ayat 59 :
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”(Q.S.An-Nisa:59)

Aplikasi yang paling utama dalam Islam yang dibicarakan dalam ayat di atas adalah taat kepada aturan, jika engkau dapati pertentangan dalam pendapat maka segeralah kembalikan semua itu kepada Allah dan RasulNya. Tanpa ketaatan kepada Allah dan RasulNya maka kedisiplinan sehebat apapun tiada artinya bagi seorang muslim.

Membahas satu topik tentang kedisiplinan dalam Islam saja maka bisa menjadi berjilid-jilid buku, karena memang saat ini kedisiplinan adalah salah satu krisis yang menimpa umat Islam.

Banyaknya kecelakaan di jalan adalah salah satu bukti disiplin yang buruk. Dalam statistik kecelakaan bahwa kematian akibat kecelakaan jauh lebih besar dari kematian karena bencana alam, Subhaanallah.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top