Tahun 1795 M, George Washington, presiden 1 Amerika, menandatangani perjanjian, siap membayar Jizyah kepada kekhalifahan Turki Utsmani. Ini opsi yang dipilih pemerintah Amerika saat itu, masuk Islam atau membayar jizyah. Demikian maka khalifah Turki Utsmani wajib menjaga keamanan rakyat Amerika setara dengan penduduk negeri Turki dan penduduk lainnya yang masuk kekuasaan Turki Utsmani.

Begitu ganti presiden, mereka mencoba berulah, dan mengirim pasukan angkatan laut besar mencoba menyerang Libya, wilayah kekuasaan Turki Utsmani. Namun apa yang terjadi? mereka, angkatan laut Amerika, habis dikalahkan oleh pasukan muslim Turki Utsmani. Akhirnya mereka harus membayar lebih besar lagi, akibat ulah mereka sendiri.

Demikianlah Islam, tidak ada paksaan masuk agama Islam, tetapi ada aturan yang harus ditaati bersama, bagi kafir dzimmi, mereka wajib membayar jizyah.

Jizyah ini bukan seperti pajak yang mengigit tanpa pandang bulu, gembel hingga orang terkaya terkena semua, tanpa ampun, melainkan jizyah ini sesuai perjanjian dan disesuaikan dengan kemampuan. Dengan demikian hak dan kewajiban kafir dzimmi sama dengan muslim, keadilan ditegakkan tanpa melihat agama, bahkan pernah terjadi hakim memenangkan kafir dzimmi dan menghukum muslim akibat kesalahannya. itulah Islam.

Shalahuddin Yusuf bin Ayyub atau lebih dikenal Shalahuddin al-Ayyubi (532-589H) adalah sosok yang sangat popular dalam serajah Islam dan Eropa. Sepak terjangnya dalam Perang Salib dan keberhasilannya merebut al-Quds (Palestina) dari penguasa Kristen telah menempatkan Shalahuddin sebagai tokoh yang paling berpengaruh di masa itu. la berhasil menhentikan sementara waktu rangkaian Perang Salib yang diserukan pertama kali oleh Paus Urban II pada 25 November 1095 di Konsili Clermont (Karen Armstrong, Perang Suci, hlm. 27).

Shalahuddin al-Ayyubi menjadi legenda dan kisah suksesnya menjadi inspirasi lintas generasi umat Islam. “Ketika para peneliti, dai, dan kalangan intelektual mendiskusikan berbagai tantangan dan bahaya yang dihadapi oleh umat Islam saat ini, mereka sering mengungkit kemenangan-kemanangan yang diraih Shalahuddin sebagai argumentasi dan penegasan atas urgensi semangat islami dalam menghadapi tantangan dan bahaya tersebut.” (Majid al-Kilani, Hakadza Zhahara lit Shalahiddin wa Hakadza Mat al-Quds, hlm. 25).

Sebagai inspirasi, menempatkan Shalahuddin sebagai ikon kebangkitan adalah suatu hal yang pantas dan bernas. Persoalan baru muncul ketika mencermati metode penyajian model kebangkitan tersebut secara keliru. Umumnya, dimulai dari fenomena pencaplokan wilayah-wilayah Islam oleh Pasukan Salib dengan cara yang kejam dan biadab. Lalu, tiba-tiba muncul sosok-sosok penting yang mengubah kondisi terpuruk umat Islam, seperti Nuruddin Zanki dan Shalahuddin, dan meyiapkan umat untuk mengusung risalah jihad. Sosok-sosok inilah yang ditampilkan sebagai aktor-aktor terpenting perubahan yang berhasil mengembalikan kedaulatan umat Islam, termasuk merebut kembali Palestina.

Di balik segala bentuk heroisme sepak terjang Nuruddin dan Shalahuddin, yang secara faktual memang benar, sebenarnya ada satu mata rantai yang hilang. Ada rentang masa sekitar 50 tahun antara jatuhnya wilayah-wilayah Islam di Syam ke tangan Pasukan Salib dengan munculnya model perjuangan Nuruddin Zanki dan Shalahuddin al- Ayyubi. Pertanyaan besar muncul di sini dan menuntut jawaban yang sangat mendesak, apa yang terjadi pada umat Islam selama masa setengah abad tersebut? Faktor-faktor apakah yang telah mengubah kondisi umat Islam dari terpuruk menjadi bangkit, bahkan meraih kemenangan besar melawan pasukan Eropa?

Di sinilah letak pentingnya karya Dr . Majid Irsan al-Kilani, Hakadza Zhahara III Shalahiddin wa Hakadza ‘Mat al-Quds (Beginilah Generasi Shalahuddin Lahir dan Beginilah Palestina Direbut kembali). Buku ini telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia oleh Asep Sobari, Lc dan Amaluddin, MA dengan judul: Misteri Masa Kelam Islam dan Kemenangan Perang; Refleksi 50 Tahun Gerakan Dakwah Para Ulama untuk Membangkitkan Umat dan Merebut Palestina, Penerbit Kalam Aulia, Tabun 2007.

Filosofi Sejarah

Kekuatan kajian Dr. al Kilani dalam bukunya terletak pada kaedah-kaedah dasar pemahaman sejarah (fiqh at-tarikh) yang ia sebut filosofi sejarah. Kaedah-kaedah merupakan hasil analisa fenomena sejarah dan nash wahyu. Menurutnya ada dua kaedah dasar yang menjadi pedoman metodologis kajian yang dilakukannya dalam ‘membaca’ fenomena kebangkitan generasi Shalahuddin ini. Berikut pemaparannya,

1. Setiap masyarakat terdiri dari tiga unsur: pemikiran, individu, dan benda.

Suatu masyarakat akan berada pada kondisi sehat dan baik, apabila individu dan benda bergerak pada poros pemikiran yang benar.

Suatu masyarakat akan sakit, apabila pemikiran dan benda bergerak pada poros lndividu. Suatu masyarakat akan mengalami sekarat dan mati, apabila pemikiran dan individu bergerak pada poros benda.

Ingin membaca buku ini seutuhnya? kunjungi link berikut ini:

Model Kebangkitan Umat Islam 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top