Dalam aktivitas apapun, apakah itu berbisnis, bekerja, berkomunitas, beramal dan sebagainya, ada satu hal yang seringkali lewat menjadi fokus kita, dan ini yang membuat semua aktivitas kita terasa kering kerontang, tiada makna, tidak ada ruh, dan tidak membuat kita semakin bijak melihat kehidupan diri dan melihat kehidupan orang lain.

Islam, hadir sebagai solusi umat manusia, agar kehidupan manusia menjadi bermakna, melaju di jalan yang benar dan penuh kebermanfaatan untuk diri dan juga untuk orang lain.

Islam mengajarkan, hendaklah melakukan segala sesuatu di mulai dengan niat, Innamal a’maalu binniyaat. Kalau niatnya hanya sekedar memenuhi makan sehari-hari, maka itulah yang akan didapatnya, tetapi jika niatnya lebih dari itu, maka itulah juga yang akan didapatkannya. Maka jangan pendekkan niat kita, rumuskanlah niat itu dengan serius, apakah sesungguhnya kita ingin melakukan itu? bisniskah? membantu orangkah? bekerja atau apapun, untuk apa?

Bicara niat, berarti bicara WHY nya atas aktivitas kita, bisnis kita, kerja kita, aktivitas sosial kita.

Jika WHY nya jelas, maka insyaAllah pengaruhnya ke what dan how nya akan bagus, tapi jika WHY nya gak jelas, pasti pengaruhnya juga ke What dan How nya, bingung mau melangkah kemana. So jika kita saat ini merasa dalam berbisnis, bekerja, beraktivitas terasa gamang, galau, bingung, pasti something wrong di dalam WHY nya.

Kembali kepada Islam, apa tuntunannya kepada kita manusia.

Wa maa kholaqtul jinna wal insa illaa liya’buduuun

Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk menyembah Aku

Dan dalam ayat yang lain Allah berfirman:

Wa maa arsalnaa min qoblika min rasuulin illaa nuuhii ilaihi annahuu laa ilaa ha illa ana, fa’buduun.

Dan tidaklah Kami utus sebelum kamu para Rasul kecuali Kami wahyukan kepadanya sesungguhnya tiada tuhan selain AKU, maka sembahlah AKU (QS Al Anbiyaa 21:25)

maka segera kembali ke default, kita adalah hamba Allah, dan hanya meminta dan menyembah Allah Yang Esa, tiada yang lain.

Perbaiki tauhid kita, adalah langkah pertama. Langkah kedua:

Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan keshalihan akhlak.” (HR. Al-Baihaqi).

Setelah tauhid kita lurus, cek akhlaq kita dalam keseharian kita. Makna akhlaq dalam Islam sangatlah luas. Akhlaq menggabungkan antara kehalusan budi pekerti sekaligus ketegasan kita dalam bersikap. Maksudnya? kita tidak mentolerir keburukan, penyimpangan, kezhaliman apapun yang mengundang dosa, namun disampaikan dengan baik, sebagaimana Allah menuntun kita dalam FirmanNya:

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk (An Nahl 16:125).

Bagaimana akhlaq kita terhadap kompetitor, kepada konsumen, kepada investor, kepada mentor, kepada pegawai, dan semua orang yang berhubungan dengan bisnis kita. Ketika ada yang bermasalah, segera kezhaliman apa yang telah kita lakukan? jangan-jangan kita kemarin juteg tapi gak sadar ke konsumen kita? atau kemarin kompetitor kita tersinggung, karena kita jelek-jelekin produknya di hadapan konsumen kita? dan seterusnya. Kalau kita pegawai suatu perusahaan, kezhaliman apa yang telah aku lakukan terhadap perusahaan ini? apakah korupsi waktu, menggunakan fasilitas kantor tidak pada peruntukkannya, dan lain sebagainya.

Begitulah Islam mengajarkan kita segala sesuatu agar hidup kita damai, aman, tentram. Semua ada solusinya, semua ada obatnya:

Dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku
[Doa Nabi Ibrahim dalam Surat Asy-Syu’raa’ 26:80]

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top