Biografi Mbah Tari bagian 2

Home » Biografi Mbah Tari bagian 2

Allah Subhanahu Wa Ta’alaa menakdirkan usia mbah Abdul Syakur tidak sampai usi lanjut. Beliau mula-mula sakit panas, karena waktu itu tidak ada dokter (rumah sakit), akhirnya mbah Abdul Syakur meninggal dunia pada tahun 1918. Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun, semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima amal kebaikan beliau, aamiin.

Mbah Abdul Syakur meninggalkan seorang istri yaitu mbah Tari putri dan putra-putranya sebanyak 7 orang, ke semuanya waktu itu masih hidup, yang sudah berkeluarga baru satu orang yaitu Badariyah Abdul Jalil, yang bertempat tinggal di Kalioso. Semua adik-adiknya tinggal di desa Tari di bawah asuhan mbah Tari putri dan bimbingan KH. Badrudin Honggowongso, sebagai anak pertama.

Jenazah almarhum mbah Abdul Syakur dimakamkan di Pasarean Purwohutaman Kartasuro, dengan cara dipikul dari desa Tari ke Kartasuro. Makamnya di Emper Cungkup KH. Chalifah Kartasuro.

Mbah tari putri dengan tegar mengasuh putranya sebanyak 7 orang. Mbah Tari putri sangat taat dan patuh pada mbah Tari kakung, dengan bukti belum lama bertempat tinggal di Tari, mbah Tari kakung mampu membangun Masjid dalam waktu relatif singkat atas dukungan mbah Tari putri. Mbah Tari punya kebiasaan bersedekah dan dermawan kepada orang lain (lumo). Setiap ada tamu dijamu meskipun ala kadarnya.

Menurut cerita, sewaktu mbah Tari kakung meninggal dunia, mbah Tari putri baru hamil yaitu pak Ahmad. Mbah Tari putri dengan kemampuan sendiri meskipun tinggal di Tari jauh dari sanak famili, tetapi mampu mendewasakan semua anak-anaknya sampa berumah tangga, dan yang terakhir yaitu menikahkan ibu Hindun dengan bapak Tamyis Sastro Sutandyo bin mbah Abdul Rasyad, naib Nogosari.

Setelah mbah Tari putri ditinggal wafat mbah Tari kakung, mbah Tari kemudian dinikahi oleh mbah KH. Moh. Irsyad, kakak kandung mbah Abdul Syakur. Dalam pernikahan keduanya ini mbah Tari putri dikarunia anak seorang laki-laki yang diberi nama Moh. Sangidu.

Moh. Sangidu tersebut lahir di desa Tari setelah berusia 4 tahun diasuh oleh bapak K. Irsyad dan disekolahkan sampai tamat SR. Kemudian setelah berusia 12 tahun diasuh oleh bapak K.Moh. Zaed gambuhan Surakarta dan disekolahkan di madrasah Mambaul Ulum Surakarta sampai tamat tahun 1946. Dan sekarang tinggal di Purwohutaman Kartasura, menempati rumah warisan mbah Moh. Irsyad Kartasuro. Mbah Tari putri sangat taat beribadah. Bilamana waktu sholat sudah datang, langsung sholat. Dan ibadah sholatnya sangat tuma’ninah. SEtelah sholat Maghrib membaca Alquran tanpa kacamata di atas tempat tidur menghadap Alquran yang terletak di depan sentong jerambah rumah bu Abdul Jalil Kalioso.

Mbah Tari putri sangat menjaga kebersihan terutama masalah makanan. Kalau masalah makanan masak sendiri. Beliau sangat gemati terhadap putro wayah dan kepada tamu yang sowan. Kalau ada tamu pasti diberi suguhan. Bila malam hari raya Idul Fitri, memberi fitrah kepada adik kandungnya yang bernama mbah K. Zaed di Kalioso. Fitrah tersebut dibawa sendiri dan diantarkan sampai ke rumah mbah Zaed.

Setelah mbah Tari putri menikahkan ibu Hindun, kemudian pindah menetap di Kalioso di rumah bapak K. Bachri Abdul Wahab.

Setelah bapak K. Bachri Abdul Wahab pindah ke Solo pada tahun 1950, mbah Tari putri menetap di rumah ibu Abdul Jalil di Kalioso. Mbah Tari putri sering berkunjung ke rumah ibu Hj. Sa’diyah Bachrun di Laweyan. Waktu itu yang sering mengikuti almarhum bapak Achmad.

Setelah bapak Achmad meninggal dunia pada tahun 1954, kalua mbah tari ingin berkunjung ke tempat putra-putranya yang disuruh mengantar yaitu almarhum Mulyono (cucu ibu Abdul Jalil). Mbah Tari putri meninggal dunia pada tahun 1974 di rumah bapak H. Bachri Abdul Wahab di Kalitan, karena usia lanjut dan di makamkan di Pasarean Pamijen Kalioso.

Biografi Mbah Tari bagian terakhir

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top