Biografi Mbah Tari bagian 1

Home » Biografi Mbah Tari bagian 1

Mbah Tari kakung nama sebenarnya adalah Zakaria, Beliau lahir tahun 1876, putra ragil mbah Chalifah di Kartasuro. Mbah Chalifah adalah pendiri masjid besar Purwohutaman Kartasuro dan cikal bakal penyiar agama Islam di Kartasuro dan sekitarnya.

Mbah Zakaria menikah dengan mbah Tuginah (mbah Tari putri), putri dari mbah Kyai Abdul Jalal IV di Kalioso. Kyai Abdul Jalal IV menikah 3 kali, istri kedua melahirkan:
1. Mbah Tari putri di Kalioso
2. Mbah Zaed kakung di Kalioso

Setelah mbah Zakaria menikah dengan mbah Tari putri, kemudian diangkat oleh kraton Surakarta menjadi Naib (kepala KUA), bertempat di Tari. Mbah Zakaria setelah diangkat menjadi naib, berganti nama menjadi mbah Kyai Abdul Syakur. Jabatan naib pada waktu itu tidak mendapat gaji dari pemerintah. Penghasilan seorang naib hanya pemberian secara ikhlas dari orang yang dinikahkan. Waktu itu jabatan naib sangat penting bagi masyarakat Jawa, karena sangat diperlukan oleh orang Islam.

Pemerintah penjajah Belanda tidak mau mengatur secara khusus undang-undang pernikahan dari orang Islam. Pada waktu itu undang-undang pernikahan dibuat oleh Belanda bersifat etnis, misalnya untuk orang yang beragama Katholik, oran-orang Cina, orang Timur Tengah, dan golongan lain. Belanda tidak mengatur hukum pernikahan secara nasional. Atas dasar pertimbangan tersebut pada waktu PB X/raja Surakarta mendirikan madrasah, Mambaul Ulum, tujuannya untuk mendidik kader yang akan diangkat menjadi wali.

Mbah Abdul Syakur selain sebagai naib juga sebagai muballigh yang ulung. Beliau sangat bijaksana, fasih berbahasa, lancar berkomunikasi dengan masyarakat.

Waktu itu para ilmuwan Sosiolog menyimpulkan bahwa orang Jawa khususnya dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu:
1. Kelompok priyayi
2. Kelompok santri
3. Kelompok abangan

Tiga kelompok besar tersebut tidak merupakan satu kesatuan (homogen) bahkan masing-masing kelompok sangat nampak gap/perbedaan yang sangat tajam. Kelompok priyayi memandang santri kelompok yang terbelakang, miskin dan tidak berpendidikan. Kelompok abangan dianggap kelompok yang tidak beragama.

Mbah Abdul Syakur sebagai muballigh berdakwah di daerah-daerah dengan cara yang sangat bijaksana, tidak memperuncing perbedaan kelompk-kelompok tersebut, semua dihadapi dengan persuasif. Kepada pamong praja meskipun menjadi aparat kolonial, mbah Abdul Syakur bisa berkomunikasi dengan baik, tidak menimbulkan kerenggangan antara kelompok priyayi dengan mbah Abdul Syakur, yang dianggap kelompok santri.

Dalam menghadapi kelompok abangan, beliau tidak menganggap buruk, tetapi dituntun secara pelan-pelan sehingga menjadi muslim yang taat.

Waktu itu umat Islam di daerah Tari Karang Gayam, kelurahan Sumber kecamatan Simo, masih langka umat Islam. Karena kebijaksanaan mbah Abdul Syakur berdakwah mampu menyejukkan masyarakat, sehingga masyarakat dapat menerima Islam dan akhirnya menjadi pemeluk agama Islam. Dan Islam terus tersebar keluar wilayah Tari.

Mbah Abdul Syakur selama menjadi naib, sangat aktif dalam berdakwah, meskipun belum mempunyai banyak tangan kanan sebagai kader. Namun lama-kelamaan dakwahnya tumbuh berkembang, muncul kader-kader dakwah Islam yang menjadi tangan kanan mbah Abdul Syakur.

Biografi Mbah Tari bagian 2

Biografi Mbah Tari bagian terakhir

 

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak memberi manfaat kepada manusia lainnya (Al Hadits)

Scroll to Top