Sejarah Kalioso dan Kisah Kyai abdul Jalal

Kira-kira 300 tahun silam, desa Kalioso yang terletak lebih kurang 12 kilometer sebelah utara kota Solo itu bernama “ALAS JOGOPATEN”.

Dari cerita-cerita beberapa orang sesepuh Kalioso yang langsung didengar oleh penulis buku “Silsilah Leluhur Kalioso (Sya’roni Martowikoro No.2038.F2), bahwa sejarah Kalioso itu dimulai dari seorang bernama Kyai Abdul Jalal I yang pada waktu kecilnya bernama Bagus Turmudi.  Beliaulah orang pertama yang berdiam di Alas Jogopaten yang sekarang dikenal dengan nama Kalioso.

kyai abdul jalal 1

Kyai Abdul Jalal I sejak kecilnya ikut kakeknya yang juga bernama Kyai Abdul Jalal bertempat tinggal di Gatak Pedan, Klaten (kakeknya wafat dimakamkan di Gatak Pedan juga).

Setelah umurnya meningkat dewasa, Kyai Abdul Jalal I pergi dari rumah kakeknya I Gatak Pedan, mencari ilmu agama Islam ke suatu Pondok Pesantren di Surabaya, seterusnya menambah dan memperdalam ilmunya ke Semarang dan akhirnya ke Pondok Pesantren di Mojo Baderan yang terletak di sebelah barat Tegalgondo di mana Kyai Mojo seorang penasehat Pangeran Diponegoro dahulu yang bertempat tinggal di situ pula. Di Pondok Pesantren Mojo Baderan, Kyai Abdul Jalal I kemudian diambil mantu oleh gurunya sendiri, Kyai Jumal Korib.

Pada suatu ketika Kyai Abdul Jalal I diperintahkan oleh gurunya yang juga sebagai mertuanya untuk menyebarluaskan ilmunya ke suatu tempat di sebelah utara Surakarta dengan disertai beberapa orang temannya, salah seorang di antaranya bernama Kyai Abdullah asal dari Jawa Timur.

 

Perjalanan rombongan Kyai Abdul Jalal I dimulai dari Mojo Baderan, melalui Surakarta terus menuju ke arah timur menyusuri Kali Cemoro sebelah timur. Akhirnya mereka sampai di suatu tempat bernama “WATU SOYE” atau menurut sumber lain dikatakan “WATU SUCI”. Hingga sekarang yang dinamakan “WATU SOYE” itu masih dapat disaksikan dan terletak di tengah-tengah Kali cemoro. Konon katanya di atas batu inilah Kyai Abdul Jalal I sering melakukan sholat dan bermunajat kepada Allah SWT.

Setelah beberap waktu lamanya kyai Abdul Jalal I beserta rombongan brdiam di “WATU SOYE” maka pada suatu saat, ketika Kyai Abdul Jalal I sedang bermunajat kepada Allah, beliau mendapatkan ilham agar melanjutkan perjalanannya ke suatu tempat yang sekarang dikenal dengan nama “GRASAK” terletak di sebelah selatan masjid Kalioso sekarang. Di sinilah akhirnya Kyai Abdul Jalal I dalam keprihatinannya mendapat ilham pula dari Allah bahwa disitulah tempat sebenarnya yang dituju.

Membuka Hutan

DI tempat bernama Grasak ini Kyai Abdul Jalal I memulai persiapannya untuk membuka hutan Jogopaten yang masih lebat itu. Beliau mulai melakukan rialat dan sholat, puasa dan amalan-amalan lainnya dengan harapan agar pekerjaan membuka hutan Jogopaten itu dapat dilakukan dengan mudah dan selamat atas pertolongan Allah. Menurut cerita nama Jogopaten berasal dari kata “Jogo pati” atau berjaga-jaga untuk bersedia mati bila berani memasuki hutan tersebut.

Setelah mengalami beberapa macam peristiwa dan godaaan-godaan yang tidak ringan maka beliau bersama pengikutnya berhasil juga menerobos ke dalam hutan dan membersihkannya. Disinilah beliau yang pertama kali mendirikan rumah disusul dengan mendirikan tempat mengajar agama Islam (pondok pesantren) dan sebuah surau/langgar.

Kemudian tempat itu lambat laun menjadi sutau tempat yang ramai dikunjungi orang-orang sekitar yang ingin mencari ilmu. Di samping itu beberapa orang keluarga Kyai Abdul Jalal I sendiri dan juga keluarga pengikutnya menyusul pula pindah ke tempat yang baru itu.

Asal Mula Nama Kalioso

Pada sekitar tahun 1788 M, Paku Buwono IV yang dikenal dengan sebutan Sinuhun Bagus yang sementara waktu menduduki tahta kerajaan Surakarta. Pada waktu itu permaisuri PB IV sedang mengandung dan mengidam ingin merasakan daging binatang kijang.

Untuk menuruti keinginan permaisuri kemudian PB IV dengan diikuti beberapa orang pejabat kraton pergi berburu ke hutan Kerdowahono yang terletak di sebelah selatan Jogopaten. Namun di sini kemudian timbullah peristiwa yang sangat aneh yaitu PB IV dalam berburu tiba-tiba hilang tanpa bekas, sehingga para pengikutnya menjadi gusar semua.

Berhari-hari mereka mencari PB IV ke segenap penjuru daerah itu namun sia-sia belaka. PB IV tetap tidak berhasil ditemukan, sehingga pada suatu hari ada seorang penduduk di situ memberi petunjuk bahwa di tempat utara sungai ada berdiam seorang kyai yang mungkin dapat diminta pertolongannya untuk menemukan PB IV yang hilang itu.

Syahdan setelah kyai yang dimaksud itu berhasil ditemui oleh para pejabat kraton, akhirnya kyai tadi tidak lain adalah Kyai Abdul Jalal I pun menyanggupi untuk membantunya, tetapi bukan beliau sendiri yang akan mencari sang PB IV. Tetapi tugas yang berat itu dipercayakan kepada seorang keponakannya yang laki-laki (anak dari kakak perempuannya) bernama Bagus Murtojo (Murtolo atau Murtodho) untuk menemukan tempat di mana PB IV berada.

Benar juga Bagus Murtojo dlam waktu yang singkat sudah berhasil menemukan tempat PB IV yang selanjutnya dapat meninggalkan tempat yang sangat angker itu dan pulang ke kraton Surakarta.

Pada suatu ketika PB IV menemui Kyai Abdul Jalal I di tempat kediamannya untuk menyampaikan rasa terimakasihnya atas bantuan yang pernah dilakukan dalam usahanya menemukan kembali dirinya (PB IV). Pada saat itulah PB IV di hadapan Kyai Abdul Jalal I terlontar kata-katanya “tempat ini sekarang saya namakan KALIOSO.

Demikianlah asal mula nama Kalioso. Sedang apa maksud dan arti dari kata Kalioso yang diucapkan PB IV itu hingga kini belum dapat diketahui secara pasti.

Di samping memberikan nama Kaliso PB IV juga menyatakan memberikan “TANAH PERDIKAN” secukupnya untuk tempat mengembangkan pelajaran agama Islam, juga memberi kenang-kenangan berupa sebuah mimbar dan pintu masjid serta benda-benda pusaka kraton berupa tombak dan keris, salah satu di antaranya adalah tombak bernama “KYAI RONDA” yang sampai saat ini semua benda-benda tersebut masih dapat disaksikan berada di masjid Kalioso. Adapun Bagus Murtojo sendiri oleh PB IV kemudian diambil atau diakui sebagai saudara angkat PB IV.

Setelah Kyai Abdul Jalal I wafat, kedudukannya sebagai pimpinan umat Islam Kalioso digantikan berturut-turut oleh Kyai Abdul Jalal II, Kyai Abdul Jalal III, Kyai Abdul Jalal IV dan seterusnya sampai sekarang di Kalioso masih terdapat pimpinan umat Islam, meskipun namanya tidak lagi mengambil nama (nunggak semi) Kyai Abdul Jalal.

Sangat disarankan unntuk kita ketahui pula adalah sejarah sesepuh-sesepuh kita seperti :

  1. Kyai Muhammad Korib
  2. Kyai Haji Yahya
  3. Kyai Muhammad
  4. Mbah Kromodimedjo
  5. Kyai Kasan Mukmin
  6. Kyai Haji Ngarfiyah
  7. Kyai Khamdani
  8. Dll

Karena dari merekalah sejarah Kalioso sebagai pusat pendidikan agama Islam terus bersambung hingga kini.

(Diambil dari buku : Silsilah Leluhur Kalioso)

 

Anas lee (anak keturunan Kyai Abdul Jalal I)

Internet Marketer/Blogger

 

 

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *