Pikiran dan Tubuh adalah Satu Kesatuan

Judul di atas diambil dari kalimat berikut ini :

Mind-and-body inevitably and inescapably affect each other

Pikiran dan tubuh kita merupakan satu kesatuan

Ini yang menjadi salah satu landasan berpikir orang NLP.

Salah satu presupososi NLP dasar pemikiran…

Pernahkah Anda dikejar anjing (gila)?

Semoga belum pernah…

Pernah coba bicara di depan publik? Dari 10 sampai ratusan orang?

Berapa kali Anda mengucapkan ijab kabul sampai dinyatakan sah?

Coba ingat-ingat sebelum kejadian….

Ada yang keringat dingin walaupun pada saat itu panas…

Ada yang mules, Ada yang gugup, Ada yang bicara jadi gagap, tersendat…

Ada yang gemetaran mau pingsan. Mana yang terjadi lebih dulu…
Kita takut dulu baru kita lari Atau kita lari dulu baru merasa takut?

Banyak dari kita mungkin mengira kita merasa takut dulu baru kita lari seperti waktu dikejar anjing gila…

Tapi tunggu dulu…

Ternyata kita juga bisa lari dulu baru merasa takut. Nah loh…

Bapak William James, seorang pakar psikologi beraliran fungsionslisme, membuktikan bahwa keduanya benar, Takut lalu lari atau Lari lalu takut

Ketika kita dikejar anjing dan merasa takut kemudian lalu mengambil langkah seribu.

Benar pula ketika kita tidak tahu menahu tentang kejadian kerusuhan yang sedang berlangsung namun kita ikut berlari bersama orang-orang lain dan ikut merasa takut kemudian…

Tubuh dan pikiran kita adalah dua bagian dari diri kita yang tidak bisa dipisahkan.

Coba perhatikan mereka yang kecanduan obat penenang.
Tidakkah mereka menyadari bahwa insomnia yang mereka alami adalah hasil dari pikiran mereka?

Begitu juga dengan mereka yang sulit mengontrol kebiasaan makannya. (Baca tentang Placebo)

The Miracle of Mind Body Medicine

Sebelum melakukan hipnoterapi untuk mengatasi perasaan cemas dalam diri klien saya pasti memberikan edukasi yang cukup lengkap dan menyeluruh bagaimana pikiran, lebih tepatnya emosi bisa sampai mengakibatkan tubuh sakit. Dan bagaimana membalik proses ini sehingga tubuh bisa kembali sehat. Berikut ini adalah ringkasan dari buku yang saya tulis dan uraian yang saya sampaikan pada kien di ruang terapi.

Jadi, bagaimana tepatnya satu bentuk pikiran atau perasaan/emosi negatif mewujud dalam bentuk gangguan fisik yang kita sebut dengan penyakit psikosomatis?

Setiap bentuk pikiran dan emosi pasti berpengaruh pada tubuh. Pengaruh ini ada yang bisa langsung dirasakan dan ada juga yang butuh waktu tertentu, melalui proses akumulasi, baru terasa.

Saat seseorang merasakan atau mengalami emosi negatif seperti takut, cemas, khawatir, marah, benci, frustrasi, atau emosi negatif lainnya secara otomatis emosi ini memicu poros HPA (hipotalamus, pituitari, adrenal) dan otak mengartikannya sebagai situasi genting yang harus segera diatasi dengan mekanisme tertentu.

Emosi negatif mengaktifkan hipotalamus sehingga melepas corticotrophin-releasing factor (CRF) ke dalam sistem saraf. CRF menstimulasi kelenjar pituitari memproduksi prolactin dan hormon adrenocorticotropic (ACTH) yang menstimulasi kelenjar adrenal menghasilkan cortisol, yang selanjutnya bertanggung jawab membantu tubuh menjaga homeostasis saat otak mendapat sinyal ancaman atau bahaya, baik yang nyata atau hanya dalam imajinasi.

Saat hipotalamus aktif, ia juga mengaktifkan sistem saraf simpatik (respon lawan atau lari / fight or flight), menyebabkan kelenjar adrenal melepasepinephrine dan norepinephrine, yang mengakibatkan detak jantung dan tekanan darah meningkat dan memengaruhi respon fisiologis lainnya. Sekresi hormon-hormon ini mengakibatkan beragam perubahan metablisme di seluruh tubuh.

Pembuluh darah yang mengarah ke kedua lengan, kaki, dan gastrointestinal (saluran pencernaan yang panjangnya sekitar sembilan meter mulai dari mulut sampai anus, meliputi oropharing, esophagus, lambung, usus halus dan usus besar) menyempit atau mengalami konstriksi, sedangkan pembuluh darah menuju ke jantung, kelompok otot-otot besar, dan otak melebar, dengan tujuan utama mengalirkan lebih banyak darah ke organ yang akan membantu kita untuk melawan atau melarikan diri dari ancaman atau keluar dari situasi genting.

Dalam situasi genting seperti ini pupil mata melebar sehingga lebih banyak cahaya bisa masuk, pandangan menjadi lebih tajam dan terang. Metabolisme tubuh meningkat pesat dengan tujuan memberikan kita energi yang besar dengan memanfaatkan cadangan lemak tubuh dan melepas gula ke dalam aliran darah. Napas menjadi lebih cepat dan bronkus melebar, memungkinkan lebih banyak oksigen masuk, otot-otot tubuh menegang dan siap untuk lari dari ancaman atau bahaya.

Selanjutnya asam lambung meningkat sedangkan enzim pencernaan berkurang, dan sering mengakibatkan terjadi kontraksi esophagus (tabung berotot yang mengangkut makanan dari mulut ke lambung), diare, atau konstipasi.

Cortisol yang dihasilkan kelenjar adrenal menekan kerja sistem kekebalan tubuh untuk mengurangi radang pada luka yang mungkin terjadi akibat serangan musuh atau perkelahian. Seks berhenti total. Dalam kondisi genting atau bahaya seks adalah sesuatu yang tidak penting dan harus dihindari karena yang lebih penting adalah menyelamatkan diri.

Cara agar kita bisa mengharmonisasikan pikiran dan tubuh kita

Apapun yang kita rasakan, secara emosi, pasti juga kita rasakan di tubuh. Konsekuensi dari terlalu banyak stres atau emosi negatif yang tidak ditangani dengan baik, terlepas apapun penyebabnya, mengakibatkan beban dan tekanan yang semakin lama semakin membesar, mendesak, dan mengganggu keseimbangan sistem tubuh dan psikis dan berakibat buruk bagi kesehatan. Tubuh tidak tahu atau tidak peduli apa yang menyebabkan munculnya emosi negatif. Yang tubuh tahu yaitu ia mengalami stres.

Dan seiring waktu berjalan, saat respon stres ini terpicu berulang kali, respon alamiah yang sebenarnya sangat baik untuk keselamatan hidup akan berakibat sangat buruk bagi kesehatan kita.

Akibatnya, tubuh tidak bisa rileks dan akhirnya mulai “rusak” karena sistem kekebalan tubuh dan mekanisme perbaikan dan pemeliharaan tubuh tidak dapat bekerja dengan baik. Organ-organ menjadi rusak. Sel kanker yang secara alamiah ada di dalam tubuh dan selama ini tidak bisa berkembang karena dihancurkan oleh sistem kekebalan tubuh kini bisa berkembang bebas dan tumbuh menjadi tumor. Efek berkelanjutan dari kelelahan dan kerusakan kronis pada tubuh akhirnya membuat kita jatuh sakit.

RELAKSASI

Lakukan relaksasi pikiran dan tubuh yang (sangat) dalam.

Mengapa relaksasi pikiran dan fisik?

Tujuannya untuk membalik proses yang telah kita alami sebelumnya. Kita sakit karena tubuh kita malfungsi akibat sistem saraf simpatik terlalu sering aktif. Untuk itu, kita aktifkan sistem saraf parasimpatik dengan teknik relaksasi. Kedua sistem saraf ini, simpatik dan parasimpatik, tidak bisa aktif bersamaan pada satu saat. Bila sistem saraf parasimpatik aktif maka sistem saraf simpatik nonaktif. Demikian sebaliknya.

Dengan melakukan relaksasi secara rutin, saat sistem saraf parasimpatik aktif, saat kita mengalami perasaan tenang, damai, bahagia, cinta, pengharapan, atau emosi positif lainnya, maka hipotalamus berhenti memicu respon stres, sistem saraf simpatik nonaktif, kadar adrenalin dan cortisol turun ke level normal, sistem kekebalan tubuh kembali aktif dan bekerja optimal. Tubuh kembali beroperasi normal, menjaga dan memperbaiki dirinya, melindungi dari sakit atau penyakit, dan mengatasi sakit yang sedang kita alami. Orang yang sehat dapat menjaga kesehatannya dan orang yang sakit bisa sembuh.

Uraian di atas dengan gamblang menjelaskan bagaimana pikiran dan emosi bisa membuat tubuh sakit dan juga bisa menyembuhkan.

Manfaat rileksasi pikiran dan tubuh telah diteliti secara mendalam oleh Herbert Benson dari Harvard Medical School. Benson memberinya nama respon relaksasi. Selama bertahun-tahun Benson meneliti ribuan pasiennya dan telah menerbitkan banyak hasil penelitiannya di jurnal medis.

Respon relaksasi diyakini sangat banyak manfaatnya untuk kesehatan. Hasil riset Benson secara tegas menyatakan bahwa respon relaksasi sangat baik dan efektif untuk mengatasi angina pectoris, aritmia, reaksi alergi pada kulit, kecemasan, depresi ringan hingga moderat, asma, herpes, batuk, konstipasi, diabetes melitus, sakit maag, pusing, kelelahan, hipertensi, infertilitas, insomnia, mual dan muntah saat hamil, tegang, bengkak pascaoperasi, PMS, radang sendi atau artritis reumatoid, efek samping dari sakit kanker, efek samping dari AIDS, dan semua bentuk sakit seperti sakit punggung, sakit kepala, sakit perut, sakit otot, sakit persendian, sakit pascaoperasi, sakit di leher, lengan/tangan, dan kaki.

Ada banyak cara untuk melatih dan mengalami respon relaksasi. Anda bisa mendengar CD relaksasi, melukis, berkebun, menikmati musik, pijat, spa, atau apa saja yang membuat pikiran dan tubuh Anda rileks dan nyaman.

Cara relaksasi yang cepat, murah dan efisien:
ATUR PERNAPASAN

TARIK NAPAS (dari lubang hidung)
HEMBUSKAN (melalui mulut secara perlahan)
Lakukan beberapa kali sampai Anda merasa nyaman

Boleh dengan menutup mata dan membayangkan sesuatu yang indah, menyenangkan. Selamat mencoba

==============

Ikuti sesi Diskusi dan sharing NLP di channel Telegram << Pembelajaran P-NLP >>

Certified Practitioner Program < Practitioner PNLP Program >

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *