Pendidikan Berbasis Fitrah dan Akhlak

Posted on

Ada seorang anak usia 6 tahun, sebutlah Alif, mencuri uang temannya, Rp 2500. Ibu Alif sangat malu, sakit hati dan murka. Sang ibu begitu kecewa anaknya yang diharapkan shalih itu mengecewakannya luar biasa. Tujuh turunan tak sudi menjadi pencuri. Amarahnya tak terbendung, lalu memarahi habis habisan. Alif menangis sejadi jadinya sampai nafasnya tersengal sengal dan menggigil ketakutan karena melihat ibunya bermetamorfosa menjadi “monster” mengerikan.

Setelah puas dan lemas, barulah menyesal dan sadar, Alif yang masih shock, ditanya, “mengapa mencuri?”.
Jawabannya sederhana namun mengejutkan, “Aku ingin belikan Mama mobil”.
Usut punya usut, ternyata sang anak sering mengamati ibunya yang selalu mengeluh kesulitan karena tidak punya mobil.

Ya Allah!

Ada seorang anak, sebutlah namanya Azzam, usia 5 tahun, pada hari pertama PAUD, dimasukkan ke dalam ruangan kelas bersama teman temannya, sementara orangtua menunggu di luar. Lalu satu dua anak mulai menangis, diikuti anak lainnya, maka serta merta menangislah seisi ruangan riuh rendah, kecuali Azzam.  Lalu Azzam menggeser meja mendorongnya mendekati jendela, lalu mencoba memecahkan jendela. Seisi sekolah geger, ada anak baru PAUD memecahkan kaca jendela.

Orangtuanya sangat malu, orangtua lain memandang sinis, guru guru juga mencap Azzam anak nakal. Setelah semua reda, Azzam ditanya, “mengapa memecahkan kaca jendela?”. Jawabannya sederhana namun menyentak perasaan, “Aku kasihan dengan teman teman, mereka terkurung, dan aku ingin menyelamatkan mereka” .

Ya Allah!

Dua kisah sederhana di atas barangkali menggambarkan bagaimana kita sering gegabah (ghurur) melihat perilaku anak dengan langsung mendakwanya sebagai kenakalan dan menghukumnya habis habisan. Kita sering melihat masalah anak dari kacamata kita, bukan kacamata anak.

Betapa lebaynya kita para orangtua yang langsung meloncat ke solusi, kita sering lupa berempati memahami perasaan anak anak kita, jalan fikirannya atau logika nalarnya, apa yang sering dikatakannya, apa yang sering didengarnya, apa kerisauannya, apa yang membuatnya frustasi dan juga antusiasnya.

Kita tidak mau menurunkan ego kita untuk sekedar sesaat mendengarkan dengan mata, telinga dan hati demi merawat fitrah anak anak kita.

Ingatlah bahwa setiap perilaku anak yang nampak nakal, bisa jadi potensi (fitrah) yang belum nampak buahnya (adabnya) atau bisa juga jeritan hati yang belum bertemu dengan jalan keluarnya.

Hmmm… tanpa sadar kita sering merasa menjadi Tuhan yang serba tahu dan paling hebat serta paling beradab. Ya tentu saja karena bukan Tuhan maka hasilnya pasti tidak beradab.

Lihatlah fitrah anak kita yang cidera, kita sendiri yang akan menuai akibatnya di masa depan. Setiap fitrah yang cidera, akan menyebabkan luka kejiwaan, dan kelak menjadi pensikapan yang buruk ketika dewasa.

(Penulis : Harry Santosa) 

Salam Pendidikan Peradaban

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.