Meta State of Ramadhan

Dari mulai usia balita sampai sebesar ini, saya masih saja mendengar tentang makna puasa adalah menahan. Ya, menahan, mulai dari lapar, haus, dan juga hawa nafsu. Dari menahan, pemaknaan pun berlanjut menjadi kesehatan, manusia diibaratkan layaknya mesin yang perlu perawatan. Maka puasa adalah metode untuk men-service diri baik secara fisik, psikis, maupun spiritual setelah digunakan tanpa henti.

Dari berbagai ceramah, saya menemukan banyak sekali makna puasa, ini jadi membuat penasaran sebenarmya apakah yang kita inginkan dari berpuasa? Kita tahu mungkin berbagai manfaat yang bisa kita dapat baik fisik, psikologis, dan spiritual, apa persisnya yang ingin kita capai dengan menjalaninya? Mengapa ini penting?

”Begin with the end in mind” kata Stephen Covey,

”Wellformed Outcome” kata NLP

Otak kita bekerja efektif hanya jika ada perintah yang secara spesifik diberikan kepadanya. Contohnya adalah mengapa kita tidak pernah kesasar ketika pulang ke rumah kita sendiri meskipun jalanan macet sehingga kita harus berputar-putar mencari jalan pintas ?.

Tepat! Kita punya gambaran mendetil tentang rumah kita di dalam pikiran sehingga unconsciously ia akan menggabungkan beragam informasi pendukung yang dapat mempercepat proses pencapaian tujuan.

Dengan pemahaman yang jelas tentang puasa, kita jadi jelas apa yang ingin dicapai dan bila kita menyukainya, kita akan mengerjakan dengan cepat. Ini salah satu prinsip kerja otak kita. Ia tidak pernah mau mencari cara paling lambat. Ia hanya mau cara yang paling cepat. Memiliki outcome yang jelas adalah salah satu cara mempercepat proses pencapaian tujuan kita.

Nach sekarang kembali ke makna puasa. Saya menerima konsep menahan dan kesehatan, meskipun saya belum cukup puas dengan apa yang saya tangkap dari apa yang saya dengar itu.

Mengapa?

Benar puasa adalah menahan, tapi untuk apa menahan? Benar pula bahwa puasa adalah memberikan waktu bagi diri untuk dirawat, tapi apa ujungnya dirawat secara khusus begini?

Ujung ini kata kuncinya menurut kami, bisa jadi tidak menurut Anda lho. Manusia adalah makhluk bertujuan. Ya, dengan berbagai potensi yang tak terhitung jumlahnya, mustahil Tuhan menciptakan manusia tanpa tujuan. Tujuan, alias ujung tadi, pasti lebih dari sekedar cara. Menahan adalah cara, begitu pula dengan perawatan. Dari berpikir soal ujung, saya pun menemukan beberapa hal.

Sesuatu perlu ditahan, jika ia memiliki energi untuk bergerak dan melaju. Kita tidak perlu menahan jika sesuatu yang diam saja, bukan? Maka manusia diperintahkan untuk menahan karena ia punya energi yang luar biasa dan berpotensi pula untuk tak terkendali. Sesuatu perlu dirawat secara rutin, karena tiap hal memiliki titik jenuh. Bagi mesin titik jenuh itu adalah keausan yang berakhir pada kerusakan. Bagi manusia, titik jenuh itu bisa jadi juga adalah keausan secara fisik atau kekeringan secara emosional dan spiritual. Tanpa perawatan, maka kotoran yang menempel pada mesin akan menempel begitu erat sehingga sulit untuk dibersihkan dan mengganggu kinerja mesin. Tanpa perawatan, hal yang sama dapat terjadi pula.

Nach masuk kata menempel ini yang mau saya jabarkan Ketika menahan sebenarnya kita melepaskan diri sejenak dari kelekatan terhadap makanan, minuman, dan hawa nafsu yang biasanya dihalalkan. Ketika berada dalam perawatan, kita melepaskan diri dari kotoran-kotoran fisik, emosional, dan spiritual yang menjauhkan kita dari fitrah sebagaim khalifah di muka bumi.

Didalam NLP berbasis Neuro semantic, diperkenalkan dengan istilah Neuro-Semantic menyebutnya sebagai Meta-State, alias state about state. Falsafah Jawa menyebutnya dengan Ngrumangsa Ning Rasa (merasakan rasa). Di titik inilah puasa akan menggiring pada penemuan makna. Bila kita lihat dari sisi Meta Puasa, maka kita temukan makna menahan dibalik menahan itu sendiri. Menahan itu sesungguhnya melepaskan.

Sederhananya menahan hal yang berpotensi negatif dan melepaskan semua potensi positif yang dimiliki dalam koridor yang sudah disepakati dalam Al-quran dan sunnnah.

Jadi puasa bukan menahan amarah, karena menahan amarah itu berat, tapi melepaskan amarahmu pada Zat yang Serba Maha yang pada ujungnya melahirkan kedamaian melalui pengakuan kehadiranNya dan ketaatan mengikuti arahan sang Illahi.

Kita bisa menemukan makna kemanusiaan kita ketika berpuasa, yang dengannya kita ’naik’ dan mengamati keseharian yang sudah terlalu biasa kita jalani. Ya, hanya dengan mengamati secara sungguh-sungguh kita bisa mengurai benang yang kusut, mencari alternatif jalan yang buntu, juga menyingkirkan penghalang guna mencapai tujuan lebih cepat.

Ramadhan adalah pintu untuk memasuki posisi meta state, dimana kita berada dalam kondisi disasosiasi atau memberi jarak pada diri kita dan bermitra lebih kuat dengan kuasanya Allah, agar manusia lebih mudah menata kehidupan kedepanya. Ramadhan memberikan kita ruang untuk melakukan back tracking atau personal histroty changa dan menata hidup untuk memodel dalam New behaviour Generator sekaligus mempersiapkan kita pada kehidupan di depan dalam nuansa Future pace, agar kita menjadi orang yang lebih baik setelah masa ramadhan usai.

Have Baarakah Ramadhan

========================

Pembelajaran P-NLP by I-TOP << Belajar P-NLP>>

Belajar P-NLP Murah bersertifikat, Mau ? kirim email ke kami :

psychocreativitynlp@gmail.com

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *