Menjadi Seorang Praktisi NLP

Bagaimana Rasanya menjadi NLP Practitioner?

Saat lebaran kemaren, saya bercerita pada seorang yang baru saya kenal dan beliau orang Amerika yang juga Trainer NLP, saya bercerita akan mendirikan sebuah komunitas NLP berbasis Islam. Dan dia mengatakan semoga komunitas ini bisa mencetak manusia yang Excellence dan ”mulia”. Kata mulia yang terakhir membuat saya berpikir dan bertanya apa yang dimaksud denganya? Dia mengatakan NLP membuat kita berproses menjadi menusia bertindak efektif dan terbaik, dan agama akan membawanya pada level yang lebih tinggi dari semuanya

Mungkin sebagian belum menyadari bahwa saat kami mendirikan IMSOP (indonesia moslem society of psychocreativity NLP) kami memilih logo dengan simbol kain dan hajar aswad. Ini sebagai napak tilas perjalanan Rasulullah sebelum menjadi nabi, yang begitu bijak dan kreatif nya menyelesaikan persengketaan kasus hajar aswad saat itu. Dan seperti itulah proyeksi kami, tentang profile seorang practitioner P-NLP.

Ada banyak motivasi orang belajar NLP, dan untuk indonesia paling banyak orang belajar NLP untuk kepentingan bisnis, yaitu mereka belajar NLP untuk jadi trainer.  Sehingga ada sebuah lembaga yang mengajarkan NLP hanya 2 hari saja, kemudian tanpa ujian komptensi apapun, mereka bisa menjadi trainer dengan mengikuti pelatihan tambahan 2 hari lagi.

Pernahkah kita diajari orang, yang mengajarkan sebuah subjek tertentu tapi orang ini tidak punya keyakinan dalam tentang subjek tersebut. Dalam islam untuk bisa menyampaikan satu ayat, kita harus islam dulu. Dengan kata lain, kita sudah melewati fase mengucapkan secara lisn, dibenarkan dalam Qalbu dan diamalkan dalam perbuatan. Ini adalah aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Kita fase ini dilewati, maka sambil belajar kita bisa menyampaikan apa yang siudah kita dapatkan

Ada kampus mengajarkan materi entrepreneurship dan dosenya adalah dosen yang mengajarkan bidang markering. Dosen ini pernah berdagang atau bisnispun tidak pernah, dikelas Ia bercerita tentang tokoh-tokok entrepeneeur sukses. Saat saya tanya pada dosen ini, mengapa tidak berbisnis? Dan Ia menjawab dengan gaya khas seorang karyawan dengan berbagai alasan ketidak mungkinan Ia berbisnis. Saya lalu berpikir, “terus dia mengajarkan apa di kelas?”

Dosen ini mirip dengan trainer NLP yang tidak pernah praktek, menjadikan NLP sebagai live tools untuk membuat hidupnya lebih efektif dan bahkan ada praktisi NLP yang datang ke pelatihan trainer lain hanya untuk mengadu ilmu dan menjatuhkan image trainer ini didepan peserta lainya

Ada kisah menarik, saat saya tahun 2007 mengambil sertifikasi practitioner NLP. Waktu itu kita pelatihan 7 hari sekaligus dan ini memang gaya klasik pelatihan NLP yang tidak dipotong-potong. Di Hari terakhir, saat sarapan trainer bercerita dia habis memarahi pelayan hotel karena tidak mengizinkan membawa makanan ke kamar, karena teman satu kamarnya lagi sakit dan Ia mau membawakan sarapan. Saat semua sudah selesai, saya lalu berkata pada trainer ini “adakah yang lebih baik dari prilaku tersebut” sang trainer tertegun dan tersenyum’

Waktu awal training  sang trainer berkata “pagi ini saya dapat Insight yang bagus dari pak Ari. Pertanyaan bapak membuat saya TDS dan melakukan evaluasi pada frame saya. Dan saya menyelesikan masalah saya dengan pelayan hotel. Menjadi NLP practitioner bukan berarti kita menjadi dewa yang tidak emosi. Manusia membuat keputusan tindakanya dengan cara terbaik sesuai dengan frame dan kondisinya saat itu dan pertanyaan pak Ari memperluas frame saya, sehingga punya banyak opsi lain untuk bertindak. Thank you pak”

Bapak ibu, ini sekaligus mengingat diri saya dan kawan-kawan co trainer yang sudah jadi practitioner serta temen-temen yang akan ujian menjadi practitioner maupun yang masih harus ikut pelatihan practitioner. Menjadi practitioner adalah langkah awal memasuki dunia NLP, kita diminta mempraktekan NLP yang pertama pada diri kita terlebih dahulu. Jadikan diri kita hidup lebih efektif, tidak mudah goyah dan penuh sumber daya. Dalam hidup ini banyak orang prilakunya tidak menarik, kadang mungkin kita di fitnah orang,  atau berbagai hal yang membuat hidup kita tidak nyaman. Tapi dalam NLP, kita selalu diminta untuk membuka opsi dan perkaya diri kita dengan keluasan sudut pandang, pengetahuan serta berbagai informasi. Ketiganya membuat kita kaya akan opsi memilih tindakan.

Setelah ini selesai, selalu praktisi kita punya kesempatan untuk membantu orang yang sedang terjebak pada satu sudut pandangan dan sudut ini sering mensabotase dirinya untuk bertindak lebih produktif. Disinilah tugas kita  sebagai praktisi membantu orang lain untuk memperluas opsi tindakanya.

Dan yang menarik, kita semua akan tergabung dalam P-NLP sebuah tehnik NLP yang basisnya Islam, maka ciri khas keislaman sebagai sebuah agama yang sarat dengan ahlak akan menjadi pondasi kita dalam mmebuat diri kita excelence dan mulia serta menjadikan perubahan yang kita lakukan pada diri dan orang lain sebagai amal shaleh

Ada kisah menarik, saat di pengajian dulu saya pernah protes pada ustadz, karena Ustadz buat peraturan tidak boleh bisnis antar terman halaqah nanti jadi ribut. Asal muasalnya karena ada sesama ikhwa halaqah tidak bertegur sapa karena ada masalah di bisnis mereka, suasan halaqah jadi gak enak. Saya protes dan berkata “ustadz, dengan aturan ini berarti kita kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ruang mempraktekan amal salah dalam bisnis dan muamalah. Bukankah Islam itu dienul waqi’y yang tumbuh dari realitas bukan tumbuh dari konsep imajiner?”

Bapak/ibu, kadang kita emosi, berbuat bodoh (tidak terhitung kebodohan saya bertindak), sedih , marah dll. Dan itu wajar,  namun itu semua membuat kita belajar dan NLP selalu memulainya dengan pertanyaan meta “adakah yang lebih baik dari itu”?

Semoga pertemuan kita, dialog dialog kita serta berbagai komunikasi kita, bisa memperkaya pengetahuan dan memperluas sudut pandang dan kita bisa meningkatkan kebijakan kita dari waktu ke waktu dalam membuat keputusan tindakan kita

Saya akan mengambil bait terakhir puisi, yang biasanya diberikan di hari ujian practitioner NLP saat lulus

In the final analysis about life, it is between you and God.  It was never between you and them anyway

Have a barrakah friday

 

Coach Ari Winarman

====================== Visit us : UKM Nusantara

TIM INSOP (Indonesian Society of Psychocreativity NLP)

http://psychocreativity-nlp.com

Fanpage : https://www.facebook.com/Komunitas-Trainer-PNLP-121465415135548

Facebook Group : https://www.facebook.com/groups/105328770127215

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *