Iktikaf di mata seorang praktisi NLP

Posted on

Apa makna iktikaf dalam konteks ilmu NLP ? Seorang bertanya pada saya dalam sebuah forum diskusi. Pertanyan menarik, karena sebenarnya belum pernah dipikirkan sebelumnya.

Iktikaf dalam pengertian bahasa berarti berdiam diri yakni tetap di atas sesuatu. Sedangkan dalam pengertian syari’ah agama, Iktikaf berarti berdiam diri di masjid sebagai ibadah yang disunahkan untuk dikerjakan di setiap waktu dan diutamakan pada bulan suci Ramadhan, dan lebih dikhususkan sepuluh hari terakhir untuk mengharapkan datangnya Lailatul Qadr.

Yang menarik ada dua kegiatan yaitu berdiam diri dan menginap di masjid. Dalam tehnik submodlities NLP ada sebuah penyajian pengalaman internal, yang disebut asosiasi artinya kita membayangkan diri sedang melakukan sesuatu dan disasosiasi yaitu kita sedang melihat film diri kita.

Apa beda dari cara penyajian pengalaman ini?

Walau terlihat sederhana, namun dampaknya sangatlah berbeda dan bahkan sangat berbeda. Seorang yang phobia atau trauma, cara dirinya mengingat sesuatu yang di phobia kan sangat assosiasi. Dan hanya dengan menggeser posisi asosiasi menuju disasosiasi akan memberikan dampak berbeda minimal, tingkat intensitas phobia bisa dikurangi.

Nach, kembali ke iktikaf, ada tiga level kegiatan yang sebenarnyanya terjadi :

  1. Langkah pertama kita menggeser posisi dari kondisi asosias terhadap hidup kita, dimana kita memikirkan kejadian sehari-hari, termasuk kadang pusing dengan urusan dunia yang kadang hanya disela waktu shalat saja. Kondisi ini membuat kita seringa lupa melakukan evaluasi kegiatan, karena kita sangat terlibat dalam kegiatan dan lupa memberi jarak pada diri kita. Nach dalam posisi di masji, kondisi yang jauh dari keseharian, kita melakukan disasosiasi untuk menonton film kita, agar kita punya gambaran jelas siapakah kita? Dan apa nilai diri kita dalam melakukan aktvitas selama ini?
  2. Dari posisi ini, kita menggeseser posisi menuju tehnik perceptual position dengan menempatkan diri di posisi 3 atau obeserver dan kemudian kita terus bergeser menuju posisi 5 atau GOD VIEW dan bersama Allah kita menonton film diri kita selama ini. Begitu banyak data diri yang salah dan harus dibenahi pada ujungnya lisan kita mengucap

Allahumma Innaka ‘Afuwwun, Tuhibbul ‘Afwa, Fa’fu ‘Anni
“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha pemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.”

  1. Langkah terakhir dari iktikaf adalah future pacing, atau membuat prediksi dimasa depan tentang diri kita yang lebih baik, setelah memohon ampun dan perbaiki kesalahan

NLP adalah tools, bukan tujuan. Bila digunakan dalam hidup akan memberikan bantuan luar bisa membuat diri menjadi lebih baik dan efektif dalam banyak konteks kehidupan

Semoga tulisan ini meyemangati diri kita untuk ber iktikaf.

di manusia yang lebih disukai Allah dan RasulNya

Have a barrakah ramadhan

 

Indonesia Tranceformation of Psychocreativity (I-TOP) <<Grup Belajar>>

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.