Predator Anak dan Fitrah Seksualitas

Pada 1993, Pengadilan Negeri Otero menjatuhkan hukuman 275 tahun penjara kepada Pastor David Holley. Dia terbukti bersalah atas tujuh kasus sodomi dan satu kasus kekerasan seksual terhadap anak-anak. Menurut pengakuan Pastor David, masih ada puluhan korbannya yang lain yang tak mau bersuara di luar sana.

David Holley telah meninggal tujuh tahun lalu dalam penjara, tapi luka yang ditinggalkan pada korban-korbannya tak pernah benar-benar sembuh.

Gara-gara perbuatan Pastor David, Phil, salah seorang korban, kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan dan gereja. Setelah menjalin hubungan dengan sesama korban, Phil memutuskan mendirikan jaringan korban dan penyintas kekerasan seksual oleh pastor atau Survivors Network of those Abused by Priests (SNAP) di New England.

Phil adalah salah satu narasumber utama penelusuran Spotlight, tim investigasi harian Boston Globe, soal kelakuan tak pantas pastor-pastor di lingkungan gereja Diosis Boston. Tim Spotlight menemukan, lebih dari 70 pastor di Diosis Boston pernah terlibat dalam penganiayaan atau kekerasan seksual terhadap anak-anak.

Film Spotlight, yang diangkat dari kisah investigasi Boston Globe, terpilih menjadi film terbaik Oscar. Beberapa hari sebelum Spotlight mendapat Oscar, Mitchell Garabedian menerima telepon dari salah satu korban yang selama ini membisu. Mitchell menjadi pengacara bagi para korban kekerasan seksual para pemimpin agama itu.

Kasus pastor pedofilia di atas terjadi hampir di seluruh Amerika, bahkan Gereja harus mengganti rugi sekitar 2 Miliar Dollar kepada para korban pedofilia. Pelecehan seksual terhadap anak di kalangan rohaniawan Gereja ini bahkan seolah menjadi wabah di seluruh dunia.

Bahkan Paus Fransiskus, mengatakan bahwa tingkat Pedofilia di Gereja mencapai 2% dari sekitar 414.000 pastor di seluruh dunia pada tahun 2012. Sejak 2004 smpai tahun 2013, tercatat telah terjadi 3400 kasus, sebanyak 2.572 pastor telah diberi sanksi berupa larangan bertemu atau berkomunikasi dengan anak anak. Paus Benedictus XVI telah memecat 884 Pastor dalam dua tahun terakhir.

_________

Tulisan di atas adalah sepenggal kisah tentang penyimpangan fitrah seksualitas di kalangan para agamawan. Mereka adalah orang yang sesungguhnya ingin hidup sepenuhnya melayani Tuhan pada awalnya, namun karena menyalahi fitrahnya maka kasus Pedofilia marak di kalangan rohaniawan ini.

Penyimpangan fitrah seksualitas diakibatkan karena fitrah ini tidak mendapat saluran yang benar. Pola hidup yang mengharamkan menikah atau sebaliknya pola hidup yang mengumbar seks, sama sama melahirkan penyimpangan seksual, diantaranya adalah pedofili, atau pelecehan seksual pada anak. Mengapa anak? Korban penyimpangan seksual yang paling rentan dan mudah tentu makhluk yang paling lemah dan mudah diperdaya yaitu anak anak.

Mohon maaf, bukan hanya di Gereja saja, kasus penyimpangan seksualitas berupa pelecehan seksual atau sodomi juga terjadi di boarding school, atau sekolah berasrama atau pesantren.

Anak anak yang dikirim ke asrama sebelum aqil baligh atau dikirim terlalu cepat sebelum fitrah seksualitasnya tumbuh paripurna, sangat rentan mengalami penyimpangan seksualitas. Perilaku penyimpangan fitrah seksualitas ini, nampak dari para senior yang baru memiliki “kekuasaan” untuk memaksa para junior nya yang menjadi tanggungjawabnya.

Kasus Sodomi para senior kepada junior terjadi di Pesantren dengan istilah Mairil, namun memang kasusnya disimpan ke bawah karpet rapat rapat, karena nama baik. Para Junior yang menjadi korban jelas tidak berani melapor.

Di sisi lain, para Junior memiliki masalah pada fitrah individualitasnya yang juga belum tumbuh, sehingga mereka rentan dibully dan tidak berdaya dipaksa.

Lalu bagaimana agar anak anak kita terhindar dari kasus penyimpangan fitrah seksualitas ini baik sebagai pelaku maupun sebagai korban?

Tentu saja fittah seksualitas dan fitrah individualitas mereka harus dididik dan ditumbuhkan dengan sebaik baiknya melalui kelekatan yang mendalam bersama para orangtuanya sejak tahapan usia 0- Aqilbaligh di usia 15 tahun.

Kelekatan yang baik dari ayah dan ibu inilah yang kelak menumbuhkan fitrah seksualitasnya dengan paripurna dan berjalan sebagaimana perannya yaitu menjadi lelaki dan ayah sejati bagi anak lelaki, serta menjadi perempuan sejati dan ibu sejati bagi anak perempuan. Fitrah seksualitas yang tumbuh baik sesuai tahapannya dipandu agama yang fitri akan membuat mereka kelak beradab pada pasangan dan keturunannya.

Kepercayaan orangtua dengan memberi ruang bagi ego anaknya ketika anak anak, juga peran strategis ayah yang penting memberikan suplai “ego” kelak akan menumbuhkan fitrah individualitasnya dan fitrah sosialitasnya, yang memberikan kemampuan yang baik dalam kepercayaan diri dan bersosial di masyarakatnya untuk tidak mudah menjadi korban bully maupun pelecehan seksual.

Jika fitrah ananda tumbuh paripurna, maka  mereka kelak seperti ikan hidup di laut. Lihatlah, selama bertahun tahun asinnya air laut tak mampu mengasinkan ikan hidup, karena mereka hidup. Namun ikan mati akan segera menjadi ikan asin dalam rendaman air garam dalam beberapa saat.

Tentu saja pada akhirnya kita serahkan semuanya kepada Allah SWT, sebagaimana kita yakin untuk menumbuhkan karunia Allah berupa fitrah ananda.

Yuk tetap rileks dan optimis menumbuhkan fitrah anak anak kita.

Salam Pendidikan Peradaban

Penulis : Ustadz Harry Santosa

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *