Inilah Keteguhan Sang Pengemban Amanah Dakwah

Sebuah kisah heroik seorang da’i, Imam Ahmad Bin Hambal di zaman Kekhalifahan Abbasiyah yang di dominasi kaum Mu’tazilah. Hanya karena beliau tidak mau mengatakan Alquran adalah makhluk seperti diinginkan penguasa.

Penguasa saat itu memasukkan sang Da’i ke dalam penjara. Tidak sekedar itu melainkan disertai dengan siksaan dan azab ala penguasa agar Imam Ahmad kendur, melemah dan akhirnya mau merubah pendiriannya, itulah target penguasa.

Sang da’i setegar karang di tengah lautan pendiriannya yang didasari pada Ilmu, sibghah Allah pada dada sang da’i hingga seorang murid yang juga shahabatnya mencoba ambil bagian dalam upaya menggoncang pendirian sang da’i dengan diplomasi.

Dihampirinya sang da’i dalam penjara yang penuh nestapa, siksa dan kesulitan.

“Wahai Imam, ucapkan saja sebaris kata yang diinginkan penguasa, setelah itu engkau akan bebas dari penjara dan kembali menyebarkan ilmumu kepada masyarakat luas.”

Inilah jawaban sang da’i yang patut menjadi contoh bagi para pengemban dakwah masa kini :

” Wahai saudaraku, sungguh tidak ada keringanan (rukhshah) bagi seorang pendakwah. Sebab kesesatannya akan membawa pada kesespada umat.”

Sebait kata yang keluar dari mulut seorang da’i yang kadang di zaman sekarang dikatakan sebagai taktik dan strategi untuk melancarkan dakwah akan menjadi Fatwa bagi masyarakat pada umumnya. Tidaklah layak bagi seorang da’i atas nama taktik dan strategi yang kemudian berpura-pura mendukung sebuah kebathilan memudahkannya mengeluarkan pernyataan, perkataan ataupun sebait kata dan menutup mata akan dampaknya pada masyarakat.

Seorang da’i pastilah akan berpikir seribu kali apalagi apa yang diminta penguasa adalah jelas-jelas perkataan yang bathil dan sesat sebagaimana Imam Ahmad yang dipaksa mengucapkan bahwa Alquran adalah makhluk.

Alquran adalah Kalam Allah. Itulah pendirian sang Imam.

Perjalanan dakwah dan perjalanan sang da’i selamanya tidak akan lepas dari cobaan-cobaan keteguhan seperti ini sebagai bukti dia lah pewaris para Nabi yang harus meneruskan amanah Allah lewat Firman-firmanNya dan sabda Rasulullah yang kerapkali bertentangan dengan yang diinginkan penguasa.

Sedikit saja ketakutan akan intimidasi, musibah dan bencana dalam hidup sang da’i muncul ditambah kelengahannya. Maka taruhannya adalah nasib dan masa depan umat yang pasti suram dan muram dan jauh dari Rahmat Allah.

4 Masa Kepemimpinan dalam Islam

Masa pertama adalah masa kepemimpinan yang langsung dipimpin oleh Rasulullah. Beliau adalah seorang Nabi, kepala negara, panglima perang, hakim dan seterusnya. Dan Wahyu Allah masih turun menjawab setiap kali muncul permasalahan yang belum dapat Nabi selesaikan.

Masa kedua adalah masa Khalifah Rasyidah. Masa ini wahyu tidak turun lagi. Namun fungsi Khalifah sebagai pemimpin yang menyeluruh terpelihara. Pada masa ini Khalifah yang 4 memiliki kualifikasi ‘aalim dan zaa’im. Pemahamannya akan Alquran dan sunnah diakui karena memang mereka adalah shahabat utama Nabi dan juga mereka memiliki kecakapan dalam memimpin masalah kenegaraan dan kemasyarakatan.

Masa ketiga adalah masa di mana mulai terjadi pemilaham antara Ulama dan Zu’ama yakni masa kekuasaan pasca Khalifah Rosyidah. Para Ulama berpusat di masjid dan memegang urusan umat sedang para Zu’ama memegang urusan politik, ekonomi dan kemasyarakatan. Ulama memberikan nasihat dan fatwa kepada umara dan umara melaksanakan nasihat dan fatwa ulama. Jika proses ini berjalan baik maka umatpun akan menjadi baik.

Masa keempat adalah masa di mana terjadi perbedaan pendapat antara ulama dan umara. Fatwa’fatwa Ulama ditinggalkan Umara. Umara menjauh dan semakin jauh dari Ulama dan bahkan membencinya. Umara terjerumus ke dalam kefasikan dan disebarkan kepada rakyatnya. Pada saat inilah merebaklah Ulama-ulama Su’ (ulama jahat, oportunis) yang berpihak kepada ulama dan mencocok-cocokkan dalil demi syahwat para penguasa. Inilah zaman sulit dan berat bagi sang da’i pengemban amanah dakwah. Satu sisi mereka harus terus menasehati umara dengan kebenaran dan di sisi lain merekapun harus menangkal kebusukan dan kesesatan para ulama Su’ yang telah dibungkus dengan dalil-dalil Alquran dan Sunnah.

Kisah heroisme Imam Ahmad bin Hambal adalah sebuah contoh seorang pewaris Nabi dengan keteguhannya, ketegasannya kepada kesesatan yang sebelumnya telah lebih dahulu dipanggungkan oleh para Nabiyullah Zakaria, Yahya ‘alaihissalaam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, Nabi Muhammad Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, para shahabat dan mujahid lainnya.

Semua akhirnya kembali berpulamg kepada kita apakah kita akan tetap istiqomah sebagaimana para Nabi dan Rasul, para shahabat dan Mujahid setelahnya ataukah kita terpaksa menerima menjadi corong penyeru ke dalam api Neraka ? Na’uudzubillahi min dzaalik

 

disadur dan ditulis ulang dari salah satu artikel di majalah Sabili

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *