Beda Riba dengan Jual Beli

Sedikit Namun Besar Konsekuensinya

Ambil untung 20% dari harga barang dari pokok dengan mengenakan bunga 20% dari uang pinjaman, bedanya apa pak?

Pertanyaan ini kerap ditanyakan ketika kita mengenalkan bank syariah, yang tentu saja berimplikasi harus membandingkannya dengan bank konvensional. Berhubung saya adalah tipe manusia yang gak suka ribet, saya biasanya memberikan pertanyaan balik:

“Apa bedanya nikah dengan zina?”

Setau saya ketika melakukan hubungan seks, tidak ada bedanya antara orang yang sudah menikah dan orang yang belum menikah. Alat yang dipakai itu itu juga. Tidak karena menikah kemudian orang menikah memakai organ tubuh yang berbeda ketika berhubungan seks. Dan tidak karena belum menikah maka orang yang belum menikah harus pinjam organ tubuh untuk berhubungan seks. Hehehe..

Bedanya apa dong? CUMA AKAD plus beberapa rukun lain nya tentu saja. Tapi apa karena perbedaannya CUMA AKAD, kemudian orang yang sudah menikah mau disamakan dengan zina? Apa rela orang sudah menikah dibilang, “Nikah itu sama dengan zina yang teradministrasi oleh pemerintah”. Atau zina itu adalah nikah yang tidak tercatat oleh pemerintah?

Saya kira tidak ada orang yg menikah mau menerima status baru “zina rercatat”. Krn pada dasarnya zina adalah dosa besar dan semua peradaban normal akan menganggap zina adalah perbuatan tercela. Dan sebagai manusia normal pula tentu tidak mau memiliki cap sebagai orang yang tidak sesuai norma. Bikin malu keluarga, biasanya dalil itu yang dikeluarkan jika ada salah seorang anggota keluarga yg memiliki hobi zina atau berprofesi sebagai pelacur atau hamil di luar nikah.

Saya heran jika ada orang yang tidak malu mengembangkan institusi ribawi (pemilik, pekerja dan pemakai), padahal riba memiliki 36 pintu dosa, di mana pintu terendahnya sama dengan menzinahi ibu sendiri. Padahal di sisi lain jika ada anggota keluarga yang memiliki gelar yang berdekatan dgn “zina” malunya minta ampun.

Krn belum ada sanksi sosial ini maka pelaku riba masih percaya diri dan bangga bersentuhan dgn produk2 ribawi ini. Hal ini mgk lain jika segala sesuatu yg berhubungan dgn institusi ribawi itu menamakan dirinya dengan “institusi penzina ibu sendiri”. Bukan “lembaga keuangan” anu atau itu.

Klo masih gak malu juga, mungkin kita memang berbeda keyakinan dan standar moral. Utk budaya nudis mungkin kami yang berpakaian lengkap ini masuk pidana berat. Utk mereka yg terbiasa maling dan hidup dari hasil maling, mungkin kata2 mutiara, ” cari yg haram aja sulit” adalah argumentasi yg sulit ditolak. Tp utk kami yg berusaha hidup secara halal pun berlaku adagium: “tidak ada yg halal.. cari yg halal” sebagai turunan dari, “tidak ada rotan maka cari rotan”. Kami tidak akan mencoba masuk wilayah, “tidak ada rotan maka akar pun jadi”

Tujuan syariat adalah menjaga 5 hal: agama, darah, akal, harta dan keturunan. Hal2 yang diharamkan dalam Islam adalah menjaga manusia dalam 5 hal di atas. Kita dilarang berlaku syirik dan bid’ah krn utk menjaga agama. Kita dilarang membunuh dan ada hukuman setimpal yg dikenal dgn qishash utk menjaga darah. Kita dilarang mabuk dan ada hukuman cambuk utk peminum minuman keras utk menjaga akal kita dari kerusakan. Kita dilarang riba, judi dan mencuri serta ada hukumannya pula dalam rangka menjaga harta. Kita pun dilarang zina dan ada hukuman keras baik cambuk maupun rajam sampai mati karena kita menjaga keturunan atau nasab. Jadi, ketahui dan renungkan, bahwa dengan hal yang kecil itu Allah menjaga harta dan nasab kita.

Semoga kita sadar bahwa Allah SWT amat mencintai kita sehingga kita dijaga dengan syariat. Dan yang paling penting adalah Allah ingin berjumpa dengan kita nanti di surga.

 

Penulis : Reza Muhammad, Praktisi Keuangan Syariah

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *