Belief System

THE INTRODUCTION ON BELIEF SYSTEM

By : Sam Ipoel (Inbound marketer)

Apa yang KITA PERCAYAI akan membentuk EKSPEKTASI akan kejadian-kejadian sesuai kepercayaan awal kita..

Dari sini kita sudah mulai tidak obyektif akan memandang sebuah kejadian.. kenapa? karena kita hanya akan menghitung dan memberi perhatian lebih kejadian-kejadian yang sesuai ekspektasi kita bakalan terjadi

Lama kelamaan ini akan membentuk PERSEPSI dan mempengaruhi kita dalam memandang sesuatu

Yang awalnya hanya persepsi-persepsi. Ujungnya akan membawa kita pada sebuah KESIMPULAN dan PEMBENARAN. Kalau orang sudah sampai tahap ini akan susah sekali dibantah dan dipatahkan apa yang diyakininya

Kenapa ?

Karena hanya akan mendatangkan ‘kebencian’ orang tersebut kepada kita. Kita pelajari dulu prosesnya kenapa orang punya kecenderungan untuk melakukan CONFIRMATION BIAS

Kita kupas sedikit tentang NEUROSCIENCE. Pola otak kita bekerja sebenarnya sangat sederhana. Pertama, Kita mencari referensi pola acuan awal/INITIAL REFERENCE. Dari posisi awal ini kita akan menyikapi setiap STIMULUS yang masuk.

Kita akan MEMBACA POLA
Kemudian MENGANALISA POLA
Dan MELANJUTKAN POLA

Ibarat main tebak-tebakan, otak kita selalu ingin tebakannya BENAR. Kalau tebakannya benar, sesuai ekspektasinya dia, maka otak kita akan dapat REWARD atau hadiah. Apa itu? DOPAMINE. Dampaknya menenangkan dan membahagiakan.

Jika tebakannya salah otak akan merilis ‘punishment’ hormon.. namanya ADRENALINE. Efek yang ditimbulkan adalah rasa penat, ketidak nyamanan Inilah yang sebenarnya bikin otak kita jadi gak obyektif.. karena dari awal kita sudah punya tendensi ‘mengaharapkan’ kejadian-kejadiaan tertentu sesuai dengan apa yang sudah kita yakini didepan

Bagaimana cara mengetes hal ini ? Cari seseorang dan bantah setiap apa yang dia katakan. Atau sebaliknya cari orang yang selalu membantah apa yang kita katakan.

Ya gak gitu Pak…
Masa seperti itu Pak…
Tidak mungkinlah..

Dijamin kita akan gampang naik pitam menghadapi orang-orang seperti ini

Sebaliknya kalau kita ngobrol sama orang responnya selalu ‘membenarkan’, ‘mengiyakan’ dan ‘melaksanakan’ apa yang kita perintahkan, efeknya akan menyenangkan

Siap Pak
Laksanakan Pak
Saya sangat setuju sama Bapak
Ide Bapak selalu keren

So.. mau cari banyak teman di sosmed..gampang. Banyak-banyakin like status siapa saja,  komen yang positif dan sependapat dengan apa yang diomongkan.
Pasti nanti ujungnya dia akan like dan komen balik seperti apa yang kita lakukan.

Sebaliknya, mau iseng cari ‘musuh’ juga gampang. Setiap teman bikin status.. kritik dan bantah apa yang disampaikan. Pokoknya bikin mereka tidak ada benarnya, bawaannya salah saja mereka.

Tapi ini jangan benar-benar dilakukan, karena jika ini Anda lakukan dalam waktu singkat Anda akan di Unfriend.. di blocked dan delete contact dengan cepat. Parahnya Anda akan dilaporkan polisi dianggap telah melakukan tindakan tidak menyenangkan.

Inilah yang menyebabkan “kenapa orang akan cenderung memilih teman yang sependapat sama mereka” Yang sepaham dan sealiran. Jelas alasannya karena mereka ingin apa yang sudah mereka yakini di amini dan dibenarkan. Kalau pun salah, mereka juga tidak mau dikritik keras dan disalahkan. Tetap mau diingatkan dengan halus.

Dalam konteks bisnis, kenapa kadang sales susah closing ?
Karena mereka over confidence dan sangat memuja barang yang dijualnya dan membabat habis pendapat calon buyer. Kadang kita lupa. customer sudah punya ‘initial reference’ mereka sendiri, mereka juga ingin dibenarkan.

Meskipun produk yang kita jual secara fitur dan keunggulan jauh lebih unggul dari yang biasa mereka pakai, atau yang mereka inginkan. Jangan langsung babat habis argumen mereka. Setiap kali Anda MEMATAHKAN argumen mereka secara langsung, ini artinya secara konsisten kita bikin mereka jengkel sama kita. Meskipun secara rasional nyata-nyata produk kita menang dibanding pilihan mereka.. tapi besar kemungkinan mereka akan MEMBENCI kita. Jadi, Mereka tidak jadi membeli bukan karena produk kita tidak bagus, tapi hanya karena KURANG SUKA sama attitude kita sebagai sales

“95% of purchase decision is emotional” (Prof. Gerald Zaltman)

 

Ingin menjadi Certified Practitioner ? < Certified Practitioner Program >

Komunitas belajar NLP < Komunitas belajar NLP Psychocreativity >

 

admin

Writer, business person, Developer

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *